Translate

Minggu, 16 Maret 2025

Mengenal Jenis Amfibi yang Ada di Hutan Pendidikan P-WEC

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi. Salah satu keanekaragaman yang tertinggi di Indonesia yaitu amfibi terdiri dari 409 jenis dari total 8.007 jenis yang ada di Dunia. Namun, penelitian mengenai amfibi di Indonesia masih sangat terbatas, dikarenakan luasnya wilayah geografis negara Indonesia dan dana penelitian yang belum memadai. Amfibi terbagi ke dalam 3 ordo yaitu ordo Anura, Gymphiona dan Caudata.

Hutan Pendidikan Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) merupakan kawasan konservasi yang digunakan sebagai pusat edukasi konservasi alam. Namun jenis-jenis amfibi di kawasan ini belum diketahui, padahal inventarisasi mengenai jenis-jenis amfibi sangat diperlukan baik untuk keperluan konservasi dan edukasi. Tujuan dari kerja praktik (KP) ini  untuk mengetahui jenis-jenis amfibi yang ada di kawasan Hutan Pendidikan P-WEC dan juga mengetahui status konservasinya.

Metode pengambilan data yang digunakan yaitu metode Virtual Encounter Sampling (VES), Purposive Sampling dan metode jelajah. Pengambilan data dilakukan selama 1 bulan dari tanggal 1 Februari – 4 Maret 2025. Lokasi pengambilan data di bagi menjadi 3 titik pengamatan. Penentuan lokasi pengamatan berdasarkan survei yang sudah dilakukan sebelumnya dan dilihat lokasi mana yang terdapat banyak amfibi. Identifikasi spesies dilakukan menggunakan buku “Buku Panduan Bergambar Identifikasi Amfibi Jawa Barat dan juga Buku Identifikasi “Panduan Lapang Herpetofauna”.  

Manfaat dari kerja praktik ini adalah untuk menambah wawasan dan keterampilan peneliti dalam melakukan inventarisasi amfibi di lapangan dan juga untuk memperoleh data mengenai jenis-jenis amfibi yang terdapat di kawasan hutan pendidikan P-WEC.

Hasil dari pengamatan ini ditemukan  6 spesies amfibi yang berasal dari ordo Anura yang terdiri dari family Rhacophoridae, Bufonidae, dan Microhylidae. Jenis amfibi ke-1 adalah Polypedates leucomystax dengan ciri-ciri ukuran tubuhnya sedang, warna tubuhnya coklat dan ada yang kuning gelap, kakinya bagian belakang lebih panjang dari kaki bagian depan dan jari kaki bagian belakang hampir sepenuhnya berselaput.

Microhyla achatina ciri-cirinya ukuran tubuhnya sangat kecil, warna tubuhnya kuning gelap dan coklat kehitaman, mulutnya seperti membentuk pola segitiga, pada bagian punggung terdapat garis vertebral tipis dan kecil.

Microhyla palmipes ciri-cirinya ukuran tubuhnya yang kecil, bagian mulutnya berbentuk pola segitiga, warna tubuhnya coklat dan kekuningan, terdapat bintil pada pelupuk mata, pada bagian punggungnya terdapat corak garis hitam.

Dutthaprinus melanostictus ciri-cirinya  ukuran tubuhnya sedang sampai besar, warna tubuhnya berwarna coklat dan ada juga yang berwarna kuning, bagian atas tubuhnya terdapat bintil-bintil besar berwarna hitam, moncong yang runcing, panjang kaki belakang dan depannya  hampir sama.

Kaloula baleata ciri-cirinya ukuran tubuhnya sedang dan gembung, kaki belakangnya sangat pendek, tympanum tersembunyi di bawah kulit, warna tubuhnya biasanya coklat dan hitam.

Phrynoidis aspera ciri-cirinya ukuran tubuhnya sedang sampai besar, kepalanya lebar, ujung moncongnya tumpul, tekstur kulitnya kasar dan terdapat bintil-bintil, jari kakinya terdapat selaput renang dari dasar jari kaki sampai ke ujung.

Jumlah individu paling banyak ditemukan pada malam hari dengan total 112, sedangkan pada pagi hari hanya ditemukan 8 individu. Kesimpulan dari kerja praktik ini adalah terdapat 6 spesies amfibi yang ada di kawasan Hutan Pendidikan P-WEC yaitu Polypedates leuocomystax, Microhyla achatina, Microhyla palmipes, Kaloula baleata, Phrynoidis aspera dan Dutthaprinus melanostictus.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), status konservasi ke-6 amfibi tersebut termasuk ke dalam kategori Least Concern (LC) atau Risiko Rendah. Hal ini disebabkan karena masih melimpahnya makanan, tersedianya habitat yang sesuai, dan minimnya predator yang memangsa amfibi tersebut sehingga jumlahnya masih melimpah.

Disusun oleh: Fredo Meical Cibro, mahasiswa UAD Yogyakarta

Selasa, 11 Maret 2025

Keragaman Jenis Ficus di Hutan Pendidikan P-WEC

Hutan Pendidikan Petungseweu Wildlife Education Center (P-WEC) adalah hutan di Malang, Jawa Timur yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. P-WEC merupakan Kawasan yang digunakan sebagai tempat edukasi terkait konservasi alam dan kehidupan liar yang telah berdiri sejak tahun 2003.

Salah satu kelompok tumbuhan yang penting dalam ekosistem ini adalah Ficus, yang berperan sebagai sumber pakan dan habitat bagi jenis burung. Kerja praktik ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis Ficus yang terdapat di Kawasan Hutan P-WEC serta mengetahui jenis burung yang memanfaatkan tanaman tersebut.

Kerja praktik dilakukan dengan metode survei eksplorasi menggunakan teknik jelajah untuk menginventarisasi tanaman Ficus. Pengamatan burung dilakukan pada pagi hari dan sore hari menggunakan metode pengamatan langsung. Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan karakteristik tanaman dan aktivitas burung.

Hasil pengamatan ditemukan 14 spesies Ficus diantaranya yaitu Ficus kurzii, Ficus benjamina, Ficus racemosa, Ficus hispida, Ficus velutina, Ficus auriculata, Ficus septica, Ficus callosa, Ficus ampelas, Ficus microcarpa, Ficus fistulosa, Ficus elastica, Ficus subulata, dan Ficus vulva.

Persebaran tanaman ini terdapat di beberapa area yang meliputi area Hall kijang ditemukan 4 individu tanaman Ficus yang terdiri dari spesies Ficus kurzii, 2 Ficus benjamina, dan Ficus racemosa. Area Mess Ringin ditemukan 1 spesies Ficus yaitu Ficus kurzii, pada area depan Pondok Waru ditemukan 2 spesies tanaman diantaranya yaitu Ficus kurzii dan Ficus septica.

Area belakang pembibitan bawah ditemukan 2 spesies Ficus yaitu Ficus auriculata dan Ficus ubulate. Area Pitta ditemukan 1 spesies tanaman yaitu Ficus hispida. Area Jalan Makadam ditemukan 1 spesies yaitu Ficus velutina, area samping pos satpam ditemukan 1 spesies tanaman yaitu Ficus callosa, area jalan aspal ditemukan 1 spesies yaitu Ficus kurzii, area pembibitan atas ditemukan 3 spesies yaitu Ficus callosa, Ficus hispida dan Ficus ampelas, area Asrama Siamang ditemukan 2 spesies yaitu Ficus mircrocarpa dan Ficus benjamina, area paving ditemukan 1 spesies yaitu Ficus fistulosa, area Arboretrum ditemukan 4 jenis tanaman yang terdiri dari 2 individu ficus benjamina, 3 individu Ficus kurzii, 1 individu Ficus elastica, dan 1 individu Ficus septica.

Area tangga ditemukan 1 spesies tanaman yaitu Ficus subulata, dan area Highrope terdapat 1 spesies tanaman Ficus yaitu Ficus fulva. Burung yang memanfaatkan tanaman ini yaitu Pycnonotus aurigaster yang menggunakan Ficus microcarpa tempat untuk bertengger dan beristirahat. Kerja praktik ini menunjukkan bahwa Ficus memiliki peran yang penting dalam ekosistem Hutan P-WEC, baik sebagai sumber pakan maupun habitat bagi burung.

Oleh: Rizqo Desti Putri, mahasiswa biologi UAD Yogyakarta

Rabu, 19 Februari 2025

Hutan P-WEC Bantu Bibit Pohon untuk Penghijauan Sekitar Mata Air di Batu

 

Hutan Pendidikan P-WEC dan PROFAUNA Foundation memberikan bantuan 52 bibit pohon kepada SMAN 2 Batu untuk penghijauan sekitar mata air di Junrejo, Batu. Kegiatan penghijauan tersebut dilakukan pada tanggal 14 Februari 2025 yang melibatkan guru dan siswa SMAN 2 Batu.

BIbit pohon sumbangan dari Hutan Pendidikan P-WEC tersebut jenis Ficus dan nangka. Kedua bibit pohon tersebut merupakan hasil pembibitan yang dilakukan P-WEC secara mandiri.

Bantuan bibit pohon dari Hutan Pendidikan P-WEC tersebut dibagikan gratis kepada masyarakat, dengan catatan bahwa bibit pohon tersebut ditanam di kawasan hutan atau sekitar mata air. Pohon tersebut harus ditanam untuk keperluan masyarakat luas, kelestarian hutan atau terjaganya mata air.

Bibit pohon yang tersedia di Hutan Pendidikan P-WEC antara lain jenis pohon buah-buahan, kopi dan Ficus (keluarga beringin). Pohon buah yang tersedia biasanya adalah nangka, durian, alpukat, manggis dan mangga.

Minggu, 02 Februari 2025

Potensi Penanaman Kopi di Bawah Kanopi Hutan P-WEC

 

Kerja praktek ini bertujuan untuk menganalisis potensi penanaman kopi Arabika dan Robusta di bawah kanopi hutan P-WEC, Malang, dalam rangka penerapan sistem agroforestriberkelanjutan. Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang mengombinasikan kehutanan dan pertanian guna meningkatkan keberlanjutan ekosistem serta kesejahteraan masyarakat.

Kerja praktek ini dilakukan melalui metode studi literatur serta pendekatan kuantitatif dengan pengukuran langsung di lapangan, termasuk pendataan jenis dan jumlah tanaman kopi, analisis kondisi lingkungan, serta evaluasi pertumbuhan tanaman di berbagai lokasi.

Hasil kerja praktek menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, kondisi tanah, serta persaingan dengan vegetasi lain berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kopi. Lokasi dengan kanopi yang terlalu rapat cenderung menghambat pertumbuhan tanaman kopi, sementara lokasi dengan cahaya cukup memungkinkan tanaman tumbuh lebih optimal.

Selain itu, hama seperti kutu putih dan ulat bulu ditemukan sebagai ancaman bagi tanaman kopi di area kerja praktek.

Dari total 268 tanaman kopi yang ditanam, 55,97% merupakan varietas Arabika dan 44,03% merupakan varietas Robusta, dengan rata-rata tinggi tanaman 43,92 cm. Oleh karena itu, sistem agroforestri berbasis kopi di Hutan P-WEC memiliki potensi dalam meningkatkan keberlanjutan ekosistem hutan.

Namun, untuk mencapai hasil optimal, perlu dilakukan pemilihan lokasi penanaman yang tepat serta pengelolaan hama dan kompetisi tanaman yang lebih efektif.

Ditulis oleh Windy Azizah Anggraini dan Magfirotul Firdausz, mahasiswa biologi ITS

Mengenal Jenis Amfibi yang Ada di Hutan Pendidikan P-WEC

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi. Salah satu keanekaragaman yang tertinggi di Indone...