Translate

Senin, 19 Agustus 2024

Menghalau Rombongan Pemburu yang Hendak Berburu Satwa di Hutan

 


Tim PROFAUNA Indonesia yang sedang monitoring hutan di wilayah Kasembon, Kabupaten Malang, memergoki rombongan pemburu yang hendak berburu di kawasan hutan (9 Mei 2024). Pemburu berjumlah 6 orang tersebut membawa lebih dari 20 ekor anjing pemburu yang terlatih.

Melalui pendekatan yang baik, rombongan pemburu tersebut akhirnya bersedia keluar hutan dan tidak berburu. Berburu atau menangkap satwa liar jenis apapun di kawasan hutan itu dilarang oleh undang-undang.

Dalam UU no 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Dalam pasal 50 ayat 3 disebutkan bahwa setiap orang dilarang mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang. Pelanggarnya bisa dikenakan pidana penjara 1 tahun dan denda Rp 50 juta.

Jika yang diburu adalah jenis satwa yang dilindungi, pelakunya akan dijerat dengan UU no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam Pasal 21 ayat (2a) disebutkan bahwa setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Perburuan jenis satwa yang dilindungi bisa diancam pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Berburu satwa liar di hutan dengan menggunakan senapan ataupun ajing pemburu (istilah lokal disebut Gladak) itu dilarang undang-undang. Penggunaan senapan angin untuk berburu itu juga dilarang.

Dalam Peraturan Kapolri no 8 tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga disebutkan bahwa senapan angin hanya untuk keperluan olahraga tembak sasaran target, tidak boleh digunakan untuk berburu/melukai/membunuh binatang/satwa

PROFAUNA Bantu Ratusan Bibit Pohon ke Petani untuk Pulihkan Hutan di Malang Selatan

 

PROFAUNA Indonesia kembali memberikan bantuan 200 bibit pohon ke petani untuk memulihkan hutan di Malang Selatan. Bibit pohon tersebut terdiri jenis durian dan cengkeh yang diserahkan langsung ke petani hutan pada tanggal 23 Februari 2024.

Pembagian bibit pohon diberikan di rumahnya Sugianto, salah satu petani hutan yang juga tim lapangan PROFAUNA di Malang selatan. Petani hutan yang memperoleh bantuan bibit sebanyak 30 orang, sehingga setiap petani memperoleh bibit pohon sebanyak 5 hingga 7 pohon.

“Bibit pohon ini diberikan gratis ke petani, namun nantinya tim PROFAUNA akan melakukan monitoring untuk memastikan bahwa bibit pohon tersebut benar-benar ditanam di kawasan hutan yang rusak,” kata Sugianto.

PROFAUNA Indonesia bekerja sama dengan petani hutan untuk memulihkan hutan dataran rendah di Malang selatan itu sejak tahun 2019. Sebelumnya PROFAUNA mengungkap pembalakan liar di hutan wilayah Malang selatan yang berujung dengan ditangkapnya 6 orang pelaku pembalakan liar oleh tim penegak hukum dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sabtu, 20 Januari 2024

Dari Bukit yang Kering, Kini Hutan P-WEC Miliki Beragam Spesies Flora dan Fauna

 

JATIMTIMES - Hutan Petungsewu-Wildlife Education Center (P-WEC) dulunya merupakan areal perbukitan kering yang jarang ditumbuhi oleh pepohonan rindang serta tidak menjadi habitat para fauna. 

Pendiri Yayasan Profauna Indonesia Rosen Nursahid menyampaikan, bahwa dari areal perbukitan kering, saat ini P-WEC menjadi sebuah hutan dengan ditumbuhi 137 spesies pohon dan menjadi habitat bagi para fauna. 

"Proses penanaman pohon di lahan seluas sekitar 5 hektar ini dilakukan sejak tahun 2002 oleh Profauna Indonesia dan Petungsewu Adventure," ungkap Rosek dalam keterangannya, Kamis (11/1/2024). 

Rosek pun menjelaskan dari 137 spesies pohon, 11 jenis di antaranya merupakan keluarga pohon beringin atau moraceae. Di antaranya Beringin (Ficus benyamina), Awar Awar (Ficus septica), Keluwing (Ficus hipsida), Lo (Ficus racemosa), Tin (Ficus carica), Karet kerbau (Ficus elastic), Benying (Ficus fistulosa), Ipik (Ficus retusa), dan Beringin (Ficus kurzii). 

"Pohon keluarga beringin ini menjadi habitat berbagai jenis burung dan tupai, selain juga menjadi peneduh," kata Rosek. 

Lalu, juga terdapat 17 spesies keluarga Fabaceae di hutan P-WEC. Jenis-jenis yang masuk keluarga Fabaceae ini antara lain Asam Jawa (Tamarindus indica), Petai (Parkia speciosa), Kelor (Moringa oleifera), Gamal (Glyricidia sepium), Kedawung (Parkia timoriana), Trembesi (Samanea saman), Sono Keling (Dalbergia latifolia), Sengon (Paraserianthes falcataria), Johar (Senna spectabilis) dan lainnya. 

"Selain kategori pohon, di hutan P-WEC juga ada 10 jenis palem, 23 perdu dan 7 jenis bambu," imbuh Rosek. 

Dengan beragamnya spesies pohon di area Hutan P-WEC, membuat lokasi inj menjadi habitat lebih dari 40 jenis burung. Mulai dari Elang hitam (Ictinaetus malayensis), Elang ular bido (Spilornis cheela), Cipohkacat (Aegithina tiphia), Cekakakjawa (Halcyon cyanoventris), Cekakak sungai (Todirhampus chloris), Walet linci (Collocalia inchi), Kapasan kemiri (Lalage nigra), Sepah hutan (Pericrocotus flammeus), Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus), Cabak maling (Caprimulgus macrurus), Bubut jawa (Centropus nigrorufus), Kedasi australia (Chrysococcyx basalis), Wiwik kelabu (Cacomantis merulinus), Wiwik uncuing (Cuculus sepulcralis), dan lain-lainnya. 

Selain menjadi habitat beragam jenis burung, Hutan P-WEC juga menjadi rumah bagi beberapa jenis mamalia. Antara lain, kucing hutan (Prionailurus bengalensis), bajing (Callosciurus notatus), musang (Paradoxurus hermaphrodites) dan garangan (Herpestes javanicus). 

Menurut Rosek, dengan banyaknya spesies pohon dan jenis fauna yang berada di area Hutan P-WEC membuktikan bahaa pemulihan suatu wilayah yang kering bukan sebuah mimpi atau mustahil dapat terjadi. 

"Beragamnya jenis pohon dan burung yang ada di hutan P-WEC ini membuktikan bahwa pemulihan suatu wilayah untuk menjadi hutan itu bukan sebuah mimpi, tapi bisa diwujudkan asal ada kemauan, kerja keras dan perawatan pohon," jelas Rosek. 

Pria yang juga merupakan ekolog inu mengatakan, bahwa hal yang paling terpenting dari sebuah program penghijauan atau reboisasi adalah perawatan pohon yang ditanam. 

"Jangan hanya ramai di seremoni penanamannya saja, tetapi kemudian pohon yang ditanam itu tidak dirawat, akhirnya banyak yang mati," tegas Rosek. 

Sementara itu, Ketua Profauna Indonesia Nada Prinia mengatakan, dengan banyaknya spesies pohon dan jenis satwa liar di area Hutan P-WEC membuat cocok untuk menjadi lokasi pembelajaran. 

"Hutan P-WEC menjadi tempat yang pas untuk belajar tentang pengenalan vegetasi, edukasi konservasi alam dan pengamatan burung. Ini menjadi pusat pendidikan kosnervasi alam yang cukup ideal dengan harga yang terjangkau," pungkas Nada.
 

Sumber: https://lumajang.jatimtimes.com/baca/303846/20240111/083300/dari-bukit-yang-kering-kini-hutan-p-wec-miliki-beragam-spesies-flora-dan-fauna

Ratusan Spesies Pohon Tumbuh di Hutan P-WEC Malang

 
Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) adalah pusat pendidikan tentang konservasi alam, outbound dan training center yang berdiri pada tahun 2003 di Desa Petungsewu Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Jawa Timur.

Tidak hanya itu, kini area P-WEC menjadi hutan dengan sedikitnya 137 spesies pohon. Adalah PROFAUNA Indonesia dan Petungsewu Adventure yang giat menanam pohon di lahan seluas sekitar 5 hektar tersebut sejak tahun 2002.

Rosek Nursahid, pendiri Yayasan PROFAUNA Indonesia mengutarakan dari ratusan spesies pohon itu, 11 jenis di antaranya adalah keluarga beringin atau Moraceae.

Menurutnya, pohon keluarga beringin ini menjadi habitat berbagai jenis burung dan tupai, selain juga menjadi peneduh.

"Keluarga Fabaceae juga dominan di hutan P-WEC, ada sekitar 17 spesies. Jenis-jenis yang masuk keluarga Fabaceae ini antara lain Asam Jawa, Petai, Kelor, Gamal, Kedawung, Trembesi, Sono Keling dan lainnya," urainya, Kamis (11/1/2024).

Selain kategori pohon, lanjut Rosek, di hutan P-WEC juga ada 10 jenis palem, 23 perdu dan 7 jenis bambu. Dengan beragamnya pohon ini, membuat hutan P-WEC juga menjadi habitat lebih dari 40 jenis burung. 

Selain menjadi habitat beragam jenis burung, hutan P-WEC juga menjadi rumah bagi beberapa jenis mamalia. Seperti kucing hutan, bajing, musang dan Garangan.

“Beragamnya jenis pohon dan burung yang ada di hutan P-WEC ini membuktikan bahwa pemulihan suatu wilayah untuk menjadi hutan itu bukan sebuah mimpi, tapi bisa diwujudkan asal ada kemauan, kerja keras dan perawatan pohon,” jelasnya.

Beragamnya jenis pohon dan satwa liar ini membuat Hutan P-WEC menjadi tempat yang cocok untuk kegiatan outbound, pendidikan alam atau rapat. Dengan fasilitas yang lengkap seperti penginapan, restoran dan balai pertemuan, membuat P-WEC menjadi pilihan menarik untuk ragam kegiatan.

“Selain cocok untuk acara gathering atau pertemuan, hutan P-WEC menjadi tempat yang pas untuk belajar tentang pengenalan vegetasi, edukasi konservasi alam dan pengamatan burung. Ini enjadi pusat pendidikan konservasi alam yang cukup ideal," ulas Rosek.(*)

Sumber: Ketik.co.id | Media Kolaborasi Indonesia. https://ketik.co.id/berita/ratusan-spesies-pohon-tumbuh-di-hutan-p-wec-malang

Mengenal Jenis Amfibi yang Ada di Hutan Pendidikan P-WEC

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi. Salah satu keanekaragaman yang tertinggi di Indone...